CONTOH SOAL OPEN-ENDED
1.
Seekor sapi beratnya 360 Kg, berapa
ekor kambing yang kamu perlukan agar jumlah semua berat badannya sama dengan
berat badan sapi itu ?
Penyelesaian
:
Pada soal ini masalah dirumuskan sedemikian rupa sehingga
menuntut siswa untuk melakukan investigasi konteks, sebab tidak semua informasi
diberikan secara eksplisit. Karena berat badan masing-masing kambing tidak
diketahui, maka dalam penyelesaian masalahnya diperlukan kemampuan berpikir
divergen, kritis dan kreatif untuk membuat pengandaian, asumsi dan keputusan
matematis yang reasonable. Artinya, anak harus mengambil keputusan,
misalnya dengan melakukan pengandaian-pengandaian yang realistik dan masuk
akal. Anak harus membuat investigasi dalam menentukan pengandaian yang masuk
akal, dan dapat dipertahankan baik nilai logis-matematisnya maupun nilai
realitas-kontekstualnya. Misalnya, jika diandaikan bahwa berat badan kambing
itu semuanya sama yaitu masing-masing 30 kg, maka soal bisa dipecahkan sebagai
berikut :
a.
Siswa dapat memisalkan berat ekor kambing sama dengan 30 kg
dan melakukan coba-coba dengan penjumlahan berulang sebagai berikut:
30 + 30 + 30 + …+ 30 = 360
(diperlukan 12 ekor kambing)
Termasuk tingkat berpikir “
Memory atau pengetahuan (knowledge) atau ingatan (recall) atau komputasi
(computation)”.
b.
Siswa yang sudah cukup paham dan terampil dengan konsep
pembagian, dapat langsung menggunakan algoritma pembagian yaitu:
360 : 30 = 12
jadi diperlukan 12 ekor
kambing dengan berat badan masing-masing 30 kg.
Termasuk tingkat berpikir “Memory
atau pengetahuan (knowledge) atau ingatan (recall) atau komputasi
(computation)”.
c.
Jika siswa bisa berpikir lebih divergen, kritis dan kreatif.
Misalnya dengan mengkritis pengandaian yang
baru saja dibuatnya, yaitu mengandaikan bahwa semua kambing beratnya sama yaitu
30 kg.
Tentu saja pengandaiannya
ini hanya masuk akal secara matematis, tetapi nilai realitasnya masih perlu
diuji dengan bertanya (kritis), apakah realistis mengandaikan semua kambing
beratnya masing-masing sama?
Dengan demikian siswa dapat
berpikir lebih kreatif dengan membuat pengandaian yang lebih divergen, yaitu
pengandaian-pengandaian yang lebih realistis.
Misalnya :
a.
sekian ekor kambing beratnya masing-masing 30 kg,
b.
sementara sekian ekor lainnya beratnya masing-masing 35 kg,
atau mungkin juga mengandaikan bahwa semua kambing beratnya berbeda, dan
sebagainya.
Di sini tampak bahwa semakin
sederhana pengandaian yang dibuat, semakin sederhana model matematika yang
dihasilkan, dan semakin mudah dan sederhana pemecahannya, demikian pula
sebaliknya.
Dengan demikian, kemampuan
berpikir kritis, kreatif dan produktif siswa dapat dilihat dari kemampuan
mereka membuat pengandaian (asumsi dan rumusan awal masalah), membuat model
matematika, dan memilih prosedur dan menyelesaikannya menjadi berbagai pemecahan
yang masuk akal.
Termasuk tingkat berpikir “
synthesis “.
d.
Setelah siswa mengkritisi bahwa kurang realistis mengandaikan
bahwa semua kambing beratnya sama (30 kg), maka mereka dapat membuat
pengandaian-pengandaian lain yang lebih kreatif dan produktif.
Misalnya dengan membuat
pengandaian yang lebih dekat dengan kenyataan misalnya;
Beberapa kambing beratnya
masing-masing 30 kg, dan beberapa kambing lainnya beratnya masing-masing 40 kg.
Pengandaian ini akan
menghasilkan model matematika yang dapat dituliskan menjadi kalimat matematika
terbuka:
30 x + 40 y = 360 , dengan x dan y bilangan bulat positif.
Penyelesaiannya tentu lebih
dari satu (sebuah persamaan dengan dua variabel memiliki tak berhingga
banyaknya selesaian), namun perlu sekali lagi kemampuan kritis, untuk memilih
selesaian-selesaian yang masuk akal, sebab y mempresentasikan banyaknya kambing
yang beratnya masing-masing 40 kg. Dengan demikian x, dan y yang masuk akal
adalah yang berupa bilangan bulat non negatif.
Dengan demikian jawaban yang
masuk akal adalah x = 4 dan y = 6, atau x = 8 dan y = 3, atau x = 12, dan y =0.
Termasuk tingkat berpikir “
Synthesis ”.
e.
Pengandaian-pengandaian yang lebih kreatif misalnya, dengan
mengandaikan bahwa kambing-kambing tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan
berat badannya.
Misalnya :
kelompok I memiliki berat
badan sekitar 30 kg, kelompok II sekitar 35, dan kelompok III sekitar 40 kg.
Pengandaian ini tentu saja
menghasilkan model metematika yang lebih realistis, tetapi penyelesaiannya
tentu lebih sulit pula.
Selesainya dapat ditentukan
dengan menyelesaikan persamaan matematika dengan 3 variabel x,y,z, yaitu 30 x + 35 y + 40 z = 360.
Termasuk tingkat berpikir “
synthesis “.
2.
Pendapatan
suatu took pakaian dan sepatu dalam satu minggu adalah sebagai berikut:
Hari Senin Rp. 5.575.000,-, hari
Selasa Rp. 3.050.000,-, hari Rabu Rp. 4.500.000,-, hari Kamis Rp. 2.775.000,-,
hari Jum’at Rp. 5.600.000,-, hari Sabtu 6.500.000,- dan hari Minggu Rp.
7.775.000,-
Pertanyaan:
a) Pada hari
apa pendapatan di toko tersebut paling rendah? dan pada hari apa pendapatann
yang paling tinggi?
b) Berdasarkan jawaban pada soal
(a) menurut Anda apa yang menjadi penyebabnya?
c) Menurut Anda
bagaimana cara menyajikan data yang baik dan benar agar pemilik toko dapat
membaca serta menganalisis pendapatannya dalam satu minggu tersebut dengan
mudah?
Penyelesaiian :
a) Pendapatan
toko tersebut rendah pada hari Kamis dan paling tinggi pada hari Minggu.
b) Berdasarkan
jawaban (a), penyebabnya adalah
·
Pendapatan pada hari Kamis rendah karena :
Uang gaji mingguannya habis, Kamis termasuk hari-hari sibuk, tidak ada
waktu untuk berbelanja, dll.
·
Pendapatan pada hari Minggu tinggi karena :
Di hari Minggu banyak waktu luang, hari libur, banyak orang berbelanja
pada hari Minggu, memiliki uang lebih (jika memerima gaji mingguan), dll.
c) Cara
penyajian data yang baik dan benar agar pemilik took dapat membaca serta
menganalisis pendapatannya dalam satu minggu dengan mudah, yaitu :
ü
Menyimpan data faktur penjualan
ü
Membuat table pendapatan mingguan
ü
Membuat grafik pendapatan per minggu
Termasuk tingkat berpikir “ Translation “.